Manfaat dari Jaminan Hari Tua BPJS Ketenagakerjaan

25 Sep 2019 | BPJS | BPJS Ketenagakerjaan

Manfaat dari Jaminan Hari Tua BPJS Ketenagakerjaan - Berdasarkan himbauan dari pemerintah mengenai kewajiban atas keikutsertaan karyawan dan perusahaan memiliki kewajiban untuk mendaftarkan karyawannya dalam program BPJS Ketenagakerjaan seperti yang sudah diatur pada Peraturan Presiden No 109 /2013 tentang Tahapan Kepesertaan Program Jaminan Sosial.  Perpres ini merupakan amanat dari UU Nomor 40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan UU No24/2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Perusahaan tidak hanya memiliki peran untuk mendaftarkan karyawannya saja tetapi juga turut ikut serta dalam mengelola iuran BPJS Ketenagakerjaan. Salah satu program penting dalam BPJS Ketenagakerjaan yaitu Jaminan Hari Tua atau biasa disingkat dengan JHT.

Sebaiknya tidak hanya mengetahui cara perhitungan JHT tapi perlu kita ketahui juga manfaat dari JHT sehingga para karyawan tidak lagi bertanya-tanya mengapa program ini diwajibkan oleh pemerintah.

Dipengaruhi oleh Usia Pensiun

  • Jaminan Hari Tua (JHT) sangat dipengaruhi oleh usia pensiun, namun perlu kita ketahui pula usia pensiun yang dimaksud tidak hanya peserta yang mencapai usia 56 tahun tapi juga termasuk peserta yang berhenti bekerja karena mengundurkan diri, terkena PHK dan juga tidak aktif bekerja dimanapun atau peserta yang meninggalkan wilayah Indonesia untuk selamanya.
  • Manfaat JHT
    Manfaat Jaminan Hari Tua (JHT) adalah berupa uang tunai atau cash yang besarnya merupakan nilai dari akumulasi iuran dan ditambahkan dengan hasil pengembangannya. Hasil pengembangan JHT ini paling sedikit sebesar rata-rata bunga deposito counter rate bank pemerintah dan dibayarkan secara sekaligus apabila :
    1. Peserta mencapai usia 56 tahun
    2. Meninggal dunia
    3. Cacat total tetap atau permanen

Manfaat JHT dapat diambil sebagian apabila peserta belum mencapai usia 56 tahun namun masa kepesertaan minimal 10 tahun dan hanya dapat dilakukan satu kali selama menjadi peserta, dengan ketentuan sebagai berikut :

  • Diambil maksimal 10% dari total saldo sebagai persiapan usia pensiun
  • Diambil maksimal 30% dari total saldo untuk uang perumahan

Jika setelah mencapai usia 56 tahun peserta masih bekerja dan memilih untuk menunda pembayaran JHT maka JHT dibayarkan saat yang bersangkutan berhenti bekerja. Biasanya BPJS Ketenagakerjaan memberikan informasi kepada peserta mengenai besarnya saldo JHT beserta hasil pengembangannya yaitu satu tahun sekali.
Apabila peserta meninggal dunia, maka perlu diperhatikan urutan ahli waris yang berhak atas manfaat JHT, yaitu :

  1. Janda/duda
  2. Anak
  3. Orang tua, cucu
  4. Saudara Kandung
  5. Mertua
  6. Pihak yang ditunjuk dalam wasiat
  7. Apabila tidak ada ahli waris dan wasiat maka JHT dikembalikan ke Balai Harta Peninggalan


Untuk cara pencairan BPJS Ketenagakerjaan dapat dicek disini. Dan saat ini dengan adanya turn over karyawan dan juga berkembangnya perusahaan maka diperlukan Software Hris untuk membantu menghitung iuran BPJS Ketenagakerjaan, yaitu Sigma HRIS. Dengan Sigma HRIS, bagian HRD & Payroll tidak perlu menghitung secara manual satu per satu karyawan, tapi dapat langsung menghitung secara otomatis seluruh komponen THP karyawan termasuk BPJS Ketenagakerjaannya. Maka tunggu apa lagi ? Pakailah Sigma HRIS sekarang.

Sumber :

https://www.bpjsketenagakerjaan.go.id/page/Program-Jaminan-Hari-Tua-(JHT).html

Sigma HRIS

All-In-One HRIS Solution

Follow Us

Semua berita terbaru akan kami update pada halaman Facebook & LinkedIn.

 

Recent Post

Popular Post

Categories