Jenis – Jenis Pengaturan Jadwal Kerja / Shift

20 Mar 2020 | Human Resources | Umum

Jenis – jenis Pengaturan Jadwal Kerja / Shift - Pada dasarnya jam kerja adalah 8 jam perhari untuk 5 hari kerja dalam 1 minggu dan 7 jam perhari untuk 6 hari kerja dalam satu minggu sesuai dengan yang tertulis pada UU No. 13 Tahun 2003 Pasal 77 Ayat 2 mengenai ketentuan jam kerja. Dengan dasar peraturan pemerintah di atas, perusahaan kemudian merincikan aturan tersebut kedalam peraturan perusahaan untuk mengatur jadwal kerja karyawan sesuai kebutuhan dan tujuan masing - masing perusahaan.

Berikut beberapa contoh pengaturan jadwal kerja yang biasa diterapkan pada perusahaan :

Non-Shifting

Pengaturan jadwal kerja ini adalah pengaturan yang paling banyak diterapkan di berbagai jenis perusahaan. Dengan penjadwalan non-shift maka seorang karyawan akan bekerja di jadwal dan pola yang sama untuk setiap harinya. Adapun perbedaan jam kerja, biasanya dibedakan berdasarkan fungsi kerja dari bagian tertentu. Sebagai contoh bagian yang bertanggung jawab atas kebersihan kantor biasanya masuk lebih maju atau mundur sekitar 1 atau 2 jam dari karyawan lainnya. Hal ini dilakukan agar saat jam kerja tiba ruangan sudah siap digunakan untuk bekerja.

Contoh jadwal non shift:

Shifting 2 Group

Yang dimaksud dengan shifting adalah sistem pembagian jam kerja antara satu atau beberapa karyawan dengan karyawan lainnya untuk menjalankan fungsi kerja yang sama baik yang bersifat berkelanjutan atau tidak. Dalam penerapan penjadwalan shifting 2 group maka perusahaan harus membagi karyawan menjadi 2 group, dimana saat group 1 selesai bekerja, group 2 akan masuk untuk melanjutkan pekerjaan tersebut.

Contoh jadwal Shifting 2 Group:


Pada metode shifting biasanya jadwal akan diputar 1 minggu sekali. Sebagai contoh group 1 akan masuk di shift 1 selama satu minggu dan masuk di shift 2 untuk 1 minggu berikutnya dan begitu seterusnya.

Shifting 3 Group

Hampir sama dengan metode shifting 2 group namun untuk pengaturan shifting 3 group perusahaan akan membagi karyawan menjadi 3 group kerja dengan jam kerja yang berbeda dan saling berkelanjutan. Penjadwalan seperti ini biasanya digunakan oleh perusahaan yang harus memproduksi barang selama 1 hari penuh (24 jam). Namun dengan metode 3 group seperti ini jika diperlukan produksi pada hari libur (sabtu atau minggu), perusahaan harus mempekerjakan karyawan dengan perhitungan lembur di hari libur.

Contoh jadwal Shifting 3 Group:

Shifting 4 Group

Pola ini biasa digunakan pada perusahaan manufacture yang sedang melakukan produksi secara terus menerus dikarenakan target produksi ataupun menyesuaikan dengan kebutuhan mesin yang digunakan. Dengan sistem kerja 4 group, produksi bisa dilakukan satu hari penuh (24 jam) setiap hari non-stop. Dimana dalam 1 hari masing – masing group akan saling bergantian shift antara satu dengan yang lainnya. Penerapan sistem penjadwalan 4 group ini tentu mebutuhkan jumlah tenaga kerja yang lebih banyak dibandingkan dengan sistem lainnya, namun dengan waktu kerja yang selalu berkelanjutan seharusnya angka pembayaran lembur tidak besar.

Berikut simulasi penjadwalan shifting 4 group :

Demikian beberapa contoh pembagian jadwal kerja yang biasa diterapkan di perusahaan. Pola mana yang paling cocok untuk diterapkan di perusahaan anda? Tentu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi perusahaan masing - masing. Untuk mempermudah mengatur pola shift kerja dapat menggunakan Software Payroll Indonesia seperti Sigma HRIS.

Sumber:

UU No. 13 Tahun 2003


Sigma HRIS

All-In-One HRIS Solution

Follow Us

Semua berita terbaru akan kami update pada halaman Facebook & LinkedIn.

 

Recent Post

Popular Post

Categories