Perhitungan Masa Kerja untuk THR

24 Apr 2019 | Payroll | THR

Perhitungan Masa Kerja untuk THR - Tidak terasa sebentar lagi kita akan berada di pertengahan tahun 2019 dan merupakan salah satu bulan yang ditunggu-tunggu juga oleh banyak karyawan yang akan merayakan Idul Fitri. Yang selalu ditunggu-tunggu oleh para karyawan dan sudah ditunggu kurang lebih setahun lamanya yaitu THR (Tunjangan Hari Raya). THR Keagamaan merupakan pendapatan non upah yang wajib dibayarkan oleh pengusaha kepada pekerja/buruh atau keluarganya menjelang Hari Raya Keagamaan atau dapat ditentukan lain, sesuai dengan kesepakatan pengusaha dan pekerja yang dituangkan dalam peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama (PKB). Pembayaran THR bagi pekerja/buruh ini wajib diberikan sekali dalam setahun oleh Perusahaan serta dibayarkan selambat-lambatnya 7 hari sebelum Hari Raya Keagamaan.


Kemudian untuk besaran THR berdasarkan dengan Permenaker Nomor 6 tahun 2016 Pasal 3 Ayat 1, Tentang Besaran Tunjangan Hari Raya Keagamaan Bagi Pekerja/Buruh, yaitu:

  • Pekerja/Buruh yang telah mempunyai masa kerja 12 (dua belas) bulan secara terus menerus atau lebih, diberikan sebesar 1 (satu) bulan upah.
  • Pekerja/Buruh yang mempunyai masa kerja 1 (satu) bulan secara terus menerus tetapi kurang dari 12 (dua belas) bulan, diberikan secara proporsional sesuai masa kerja dengan perhitungan:
    Masa kerja x 1 (satu) bulan upah.
           12

Pastikan Anda sudah sesuai dengan peraturan di atas dengan klik detail di sini dan pastikan juga perhitungan pajak THR dengan klik di sini.


Nah, bagaimana perhitungan masa kerja untuk THR?

Perhitungan masa kerja terhitung sejak adanya hubungan kerja antara Pekerja dan Pengusaha atau sejak pertama kali mulai bekerja di perusahaan tertentu berdasarkan pada Perjanjian Kerja. Sesuai dengan UU Pasal 50 Nomor 13 Tahun 2013 tentang Ketenagakerjaan, yaitu:

“Hubungan kerja terjadi karena adanya perjanjian kerja antara Pengusaha dan Pekerja/Buruh”


Lalu, apakah ada perbedaan perhitungan masa kerja antara PKWT (Perjanjian Kerja Waktu Tertentu)  dan PKWTT (Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu) ?

Untuk perhitungan masa kerja berdasarkan Permenaker Nomor 6 tahun 2016 Pasal 2 Ayat 1 dan 2, yaitu:

  1. Pengusaha wajib memberikan THR Keagamaan kepada Pekerja/Buruh yang telah mempunyai masa kerja 1 (satu) bulan secara terus menerus atau lebih.
  2. THR Keagamaan sebagaimana dimaksud pada ayat(1) diberikan kepada Pekerja/Buruh yang mempunyai hubungan kerja dengan Pengusaha berdasarkan perjanjian kerja waktu tidak tertentu atau perjanjian kerja waktu tertentu.

Maka dari Permenaker di atas tertulis bahwa masa kerja 1 bulan berlaku untuk PKWT maupun PKWTT dan tidak ada perbedaan perhitungan masa kerja di antara keduanya.


Kemudian, Bagaimana jika PKWTT dan terkena PHK ?

Untuk Pekerja/Buruh PKWTT dan mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) terhitung sejak 30 hari sebelum Hari Raya Keagamaan maka berhak atas THR sesuai dengan masa kerjanya berdasarkan Permenaker Nomor 6 tahun 2016 Pasal 7 ayat 1.

Sedangkan untuk PKWT dan habis masa kontraknya sebelum Hari Raya Keagamaan maka tidak berhak atas THR sesuai dengan Permenaker Nomor 6 tahun 2016 Pasal 7 ayat 3. Namun, untuk hal ini disesuaikan dengan perjanjian kerja yang sudah disepakati bersama antara Pengusaha dan Pekerja tersebut.

Namun, bagi Perusahaan yang telah mengatur pembayaran THR Keagamaan dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan (PP),  atau perjanjian kerja Bersama (PKB) dan ternyata lebih baik dan lebih besar dari ketentuan di atas, maka THR yang dibayarkan kepada Pekerja/Buruh harus dilakukan berdasarkan pada PP atau PKB tersebut. Dan diperlukan juga payroll software, yaitu Sigma HRIS untuk membantu proses mempermudah perhitungan masa kerja serta perhitungan THR Keagamaan.

Sumber :

- Permenaker Nomor 6 tahun 2016

- UU Pasal 50 Nomor 13 Tahun 2013

 

Sigma HRIS

All-In-One HRIS Solution

Follow Us

Semua berita terbaru akan kami update pada halaman Facebook & LinkedIn.

 

Recent Post

Popular Post

Categories